Tempat Ngumpul, Tanpa kebo
Tempat Protes, tanpa demo
About Me
name:
mohammad el ka'bah
from:
ciputat, tangerang, Indonesia
info:
GuE?
Kata Mantan (pembantu) sih, "Gue itu makhluk paling ga jelas di muka bumi ini"
"jorok! plus pemalas" kata temen kosan.
Kalo kata temen2 kampus (setelah gue hajar sampe babak belur) mereka bilang sambil nangis haru "gue itu...Lucu"
Nah penjaga warteg suka bilang "Mas Abonk, Kapan dibayar utangnya?"
Alkisah sebelum Tuhan menciptakan dunia dan isinya, arwah para manusia sudah dikumpulkan menurut negaranya. Berdasarkan urutannya ada China, India, amerika dan Indonesia.Tentu saja karena Tuhan itu adil, Negara-negara besar ini dipanggil lebih dulu untuk di kasih anugerah. pertama Tuhan memanggil "China" Negara yg penduduknya 1 milyar itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan siapa wakil mereka, karena dengan gagah berani Mao Tze Tung langsung maju mewakili negaranya, maka dikaruniailah mereka "ilmu dagang" Kemudian Tuhan memanggil, "India..." Penduduk India semua segan sama Bapu Mahatma Gandhi, sehingga mereka pasrahkan Mahatma Gandhi untuk mewakili mereka. Maka india dikarunia "nilai spiritual yg tinggi" Selanjutnya Tuhan memanggil "Amerika" Para penduduk Amerika langsung mengadakan pemilu dan George Washington terpilih untuk mewakili negeri paman Sam. Sehingga tuhan menganugerahi negeri ini "ilmu teknologi" kini giliran Indonesia yg dipanggil oleh Tuhan, "indonesia" Maka dikumpulkanlah warga Indonesia oleh Soekarno, Soeharto, Habibi, Gus Dur, Mega dan SBY. Mereka saling berebut untuk mewakili negara ini, pihak parlemen juga ga mau kalah mereka minta "mereka" yg mewakili karena mereka wakil rakyat. Perdebatan makin sengit dan butuh waktu lama. Sehingga giliran indonesia dipending dan diteruskan ke Negara-negara yg lain dulu. Begitu pembagian itu selesai, barulah Indonesia sepakat diwakili oleh Soekarno. Sehingga majulah Soekarno. tapi sayang Tuhan sudah tak menyisakan anugerah buat negara ini karena sudah habis dibagi ke Negara-negara lain. "Makanya jangan banyak omong..." celetuk malaikat "kasihan... deh lu" teriak para pemimpin negara yg lain
Cicak lawan Buaya, kalimat yg pada awalnya diucapkan oleh "Bapak" (ditulis untuk menghormati orang yg lebih tua dari pada saya, bukan "salute" terhadap) Susno Duaji sebagai metafor sengketa antara KPK dan POLRI itu, kini menjelma menjadi mantera bagi sekelompok masyarakat untuk melakukan perubahan. Sialnya, mantera itu bak mantera santet yang kini "mengejar" sang empunya. Inti pelajaran dari kasus Cicak versus Buaya adalah pepatah lama yang mengatakan: mulut-mu harimau-mu. Kalau sang empunya mantera saja, tak sanggup mengendalikan kekuatan mantera itu, apalagi orang lain. Mantera itu kini bukan hanya sebuah kalimat yg dirapal, tapi sebuah kekuatan besar (people power) yang siap menghancurkan apapun yang menghalanginya untuk melakukan perubahan. Maka wajar, jika bapak presiden sampai melarang merapal mantera made in "bapak" Susno Duaji tersebut. Ada banyak kemungkinan, kenapa presiden ikut-ikutan takut pada mantera bikinan anak buahnya. Pertama, beliau tidak punya penangkal. Kedua, bisa jadi beliau termasuk orang yg sedang dikejar sama mantera tersebut. Wa allhu a'lam bishowab... (semoga saya salah) Teks adalah realitas kehidupan kita. Melarang mengucapkan atau membuang teks dari kehidupan (seperti yg dilakukan oleh pejabat no 1) sama saja mengingkari sebuah kenyataan dan mengakui ketidak mampuan. Kanyataan ini seharusnya tidak boleh terlihat dari seorang pemimpin di saat keadaan membutuhkan bukti kecakapannya. Saya jadi bertanya, apa yang salah dengan pemimpin saya? Toh pemimpin saya dipilih dengan metode dan teknik yang canggih! di impor dari negara yang dikatakan adi luhung, paling terdidik, paling berbudaya, harus dicontoh kalo pengen jadi menusia (bukan kera). Tapi hasilnya jauh lebih buruk dari hasil upacara lempar tulang, ataupun menunggu pulung yang hasilnya ditentukan oleh monopoli "dewa". Di jaman canggih ini, kita "merebut" suara langit untuk menentukan pemimpin. Tapi kalo hasilnya seperti ini, buat apa?! ga ada guna! lalu siapa yg salah? tentu saja mereka yang memilih. Sudah seharusnya rakyat (yg memilih pemimpin terpilih) meminta maaf karena pemimpin yg mereka pilih tidak mampu mengemban amanah dengan benar, sehingga menyengsarakan mereka yg tidak memilih. Efek dari ketidak mampuan inilah yang menyebabkan ada cicak versus buaya. Cicak versus buaya mungkin hanya kalimat bagi presiden. Tapi bagi saya tentu bukan! cicak versus buaya adalah realitas, kalau toh tidak bernama cicak versus buaya, tentu akan ada kalimat lain yg menggambarkan realitas tersebut. Karena kata pujangga apalah arti sebuah nama, mawar tetaplah mawar, andaikan bukan bernama mawar. Realitas tak dapat dibohongi, dia tetap ada di alam sadar kita. Cicak harus tetap hidup, meskipun bukan bernama cicak. Karena buaya akan selalu ada, demi keseimbangan alam. Yin dan Yang. hitam dan putih. Tinggal kita para pelaku sejarah, harapan bangsa, akan ada dibarisan mana dalam pertarungan yg tiada henti hingga 1212. Eh sorry, maksudnya hingga kiamat hehehe
Bagi sebagian pembaca mungkin belum tau apa itu feeding frenzy. Makanya gue mesti ngejelasin dulu nih, Feeding frenzy (FF) adalah: game dimana pemainnya akan menjalankan se-ekor ikan kecil dengan bantuan mouse (tentunya! masak pake bantuan mbah dukun sih hihihi), buat makan ikan lainnya. Kemampuan makan ikan (yg kita mainkan) akan ter-upgrade bila mampu memakan ikan kecil, gelembung, dan mutiara, sehingga kita dibolehin melahap ikan -ikan besar yg pada awalnya cuman nguber-nguber ikan kita duank.
Dalam game ini, (sebenernya) ada pelajaran yg bisa kita petik, selain cara makan ikan dengan aman dan berenang. Yakni pelajaran bisnis, ini sih menurut pengamatan gue selama iseng2 main. Berikut adalah hasil penelitian sekaligus campuran ide, wangsit serta ilham yang diaduk dengan telor setengah mateng. jangan lupa kasih garam secukupnya. Dalam FF, ikan kecil yg kita mainkan adalah simbol bila kita memulai usaha (wiraswasta). Kita harus memulai dengan memakan (menjual produk / mengumpulkan) pada ikan-ikan kecil (konsumen / uang yg beredar di masyarakat), tentu saja kita ga sendirian. Ada ikan besar (kompetitor mapan) yg geraknya lebih gesit dan lebih cepat dalam perburuan ikan kecil (termasuk kita). Sehingga selain mampu memangsa, kita juga wajib lihai dalam menghindar, kalo bisnis kita pengen terus berlanjut. Ikan kecil (objek perburuan), dalam game ini sangat melimpah. Ada yang berkelompok ada juga yang sendiri2. Hal ini mencerminkan keadaan pasar atau konsumen. Mereka bersifat pasif, tidak memakan korban (tidak menjual barang/jasa). Kita (para usahawan pemula) bisa hidup dengan cara memakan (menyediakan jasa/barang yg mereka perlukan). Ikan besar (kompetitor), kelompok ini bersifat aktiv. Mampu memakan semua ikan (baik itu konsumen maupun kita para usahawan kecil). Sehingga cara menghadapi kelompok ini adalah: dengan cara tidak berhadapan langsung, tapi dengan cara menghindar, sambil menyusun kekuatan (dengan cara melebarkan usaha) sehingga kita mampu memiliki kekuatan diatasnya dan mampu memakannya (bersaing). Gelembung adalah simbol kesempatan mendapatkan proyek yg tak terduga. Gelembung ini bisa muncul kapan saja. Kalo kita sigap, kita mampu menangkap peluang itu. Nilai gelembung (proyek) ini biasanya lebih besar dari pada nilai memangsa ikan (pemasaran reguler). Hati-hati dengan Kerang dan mutiaranya. Makhluk ini simbol dari kucuran kredit dari bank. Nilainya memang besar, tapi semuanya dibatasi oleh waktu, sehingga kalo ga hati-hati dan penuh perhitungan, anda bisa ditelan sama kerang (bank) tersebut. Sesekali akan muncul ikan Hiu atau baracuda. Ini simbol bahwa tak ada usaha yang 100% aman di dunia ini. Jadi saat anda leading pun anda harus terus waspada, kalo tak ingin langkah anda terhenti. Begitulah apa yang gue dapet dari main feeding frenzy selama 2 semester dan meninggalkan bangku kuliah. meskipun ga berguna bagi gua, semuga itu bisa berguna bagi anda. terima kasih
Dulu saran orang tua kepada anaknya yg kuliah di UIN Ciputat, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi mahasiswa-nya Karl Marx atau Ulil Abshar”. Maklum, di kota kecil sebelah selatan Jakarta ini, identik dengan kebebasan berfikirnya. Banyak organisasi islam berebut dan menggembleng kadernya di kampus UIN (dulu IAIN). Keadaan komunitas yg plural ini sudah lama ada di Ciputat. Tak heran bila Ciputat dianggap mempunyai madzhab sendiri, yakni Islam madzhab Ciputat.
Komunitas yg plural dengan pemikiran yg radikal di IAIN waktu itu, menyebabkan tudingan miring terhadap IAIN. Mulai dari tudingan IAIN sarang pemurtadan, sampai memelesetkan kepanjangan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi Ingkar Allah Ingkar Nabi.
Namun seiring berjalannya waktu, setelah IAIN resmi berganti nama UIN, pertentangan ideology yang dibangun lewat lembaga kajian, perlahan mulai surut. Dampak dari turunnya animo mahasiswa terhadap lembaga kajian. Sehingga hanya menyisakan “pertarungan” antar dua ideology yakni: Islam moderat dan islam fundamental.
Islam moderat diwakili oleh organisasi semacam: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiwa Muhamadiyah (IMM). Sedangkan islam fundamental berkembang seiring berkembangnya KAMMI, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Pertarungan” babak baru ini mulai seimbang, ketika IAIN berubah menjadi UIN dan membuka jurusan umum yang mahasiswanya didominasi lulusan SMA bukan dari kalangan pesantren dan Madrasah Aliyah seperti masa IAIN dulu.
Pergeseran background pendidikan mahasiswa UIN, dari pesantren dan madrasah aliyah ke SMA, ternyata secara tidak langsung, membuat organisasi islam fundamental berkembang. Mahasiswa yg berasal dari SMA sudah akrab dengan organisasi rokhis dan awam dengan organisasi-orginasi islam moderat yg memang tidak punya organisasi taktis di SMA. Sehingga begitu mereka masuk UIN, mereka akan memutuskan bergabung dengan organisasi “induk” yakni: KAMMI, LDK atau HTI. Begitu juga sebaliknya, para lulusan pesantren dan madrasah aliyah yang sudah akrab dengan islam moderat atau tradisional akan bergabung dengan HMI, PMII atau IMM.
Sehingga kalau kita lihat saat ini di UIN, basis masing-masing ideology dapat ditebak dengan mudah. Fakultas-fakultas islam “peninggalan” IAIN masih didominasi oleh organisasi islam moderat. Sedangkan fakultas-fakultas umum (baru dibuka setelah berubah menjadi UIN) menjadi basis organisasi islam fundamental, walaupun tidak keseluruhan.
Namun disaat pergulatan ide dan wacana ini mulai menarik. Kedua pihak dikagetkan dengan penangkapan mahasiswa UIN yg terlibat kasus terorisme. Kebetulan para mahasiswa ini belajar di fakultas sains dan teknologi yang tergolong fakultas umum. Apakah kejadian itu ada kaitannya dengan “pertarungan ideology”? entahlah. Pastinya, kasus terorisme bukanlah kriminal biasa seperti halnya copet. Banyak kepentingan yg ikut serta dalam kasus ini. Tapi bagaimanapun hal itu sangat disayangkan oleh semua pihak. Bahkan Rektorat terlihat responsive dengan akan mengubah kurikulum. Pertanyaannya, seberapa efektif langkah itu? Mengingat pemikiran mahasiswa dibangun saat dia sekolah, bukan saat dia kuliah. Karena kuliah hanyalah memperkaya wacana, bukan membentuk pribadi seseorang.
Mungkin saat ini, ada baiknya kalau orang tua mahasiswa UIN berpesan pada anaknya, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi teroris”
Jumat kemaren tiba-tiba HP gue (yg lagi silence mode) terus-terusan bergetar. Gue jadi bingung, sebenernya nih Hp ato vibrator?!. Jangan-jangan hp gue ada fasilitas vibratornya lagi???. Sungguh fasilitas yg mubazir bagi seorang pemuda, meskipun kesepian (buat apa coba?). Ato bisa jadi ini adalah produk vibrator NOKIA dengan fasilitas hp (wow teknologi yg inovatif). Entahlah, gue belum sempet nanya ke counter NOKIA. Mendadak semua orang yg gue kenal, mulai dari bokap, adek, saudara, temen, sampe tetangga, pada nanyain: bener ga sih di Ciputat ada terorist yg digrebek sama densus 88? kosan lu jauh ga dari tempat penggrebekan? lu ikut nonton donk! katanya mahasiswa UIN Jakarta ada yg terlibat lho? bla bla bla... Gue sendiri malah bengong ga tau apa-apa. Bukannya gue yg ngejawab pertanyaan mereka. Eh malah mereka yg asik cerita.
Gue sendiri sih ga mo ambil pusing dengan semua nama teroris yg disodorkan oleh media pada kita. Gue juga ga mo tau tentang orang yg pada sibuk mencari-cari jaringan sel Noordin M Top di Negara ini. Gue cuman peduli pada satu hal, sebenernya siapa sih teroris itu? Orang lebih suka menunjuk ke luar, daripada introspeksi dirinya. Mereka sibuk menemukan teroris yg berjenggot, padahal kambing juga berjenggot, tapi kita semua ga ada yg percaya kalo kambing teroris (iya toh, bener toh, enak toh, asik toh?). Teroris bisa saja berjas dan berdasi. Berseragam militer. Duduk di singgasana. Jangan-jangan karena kita sibuk mencari teroris di luar, kita lupa bahwa sebenarnya "kita"lah yg benar-benar teroris. Apa kriteria mahluk yg dicap "biadab" ini? para pembunuhkah? Kalo itu yg dijadikan patokan. Bukannya para "pembunuh" itu juga saat ini dikejar oleh "pembunuh" lainnya. Itu berarti ada teroris yg mengejar teroris. (ambigu) Atau kita bisa saja berkata teroris adalah "orang yg menebar teror". Tapi lagi-lagi di Negara ini banyak kelompok yg menebar teror. Para cendekiawan yg berkoar-koar di televisi misalnya. Omongan mereka kok serasa lebih meneror saya, daripada memperkaya wacana. Belum lagi beberapa organisasi yg siap menghalalkan darah bagi mereka yg tidak se-ide.
Mereka yang meresahkan rakyat dengan kebijakannya, korupsinya, nepotismenya, apakah lolos dari ungkapan teroris? itu semua terserah pada kalian.
Inget sama pepatah Bang Napi, "kejahatan (terorisme) tidak hanya muncul karena ada niat, tapi juga karena adanya kesempatan". Bisa jadi gue dan kalian sebenarnya adalah teroris yg lagi ngantri alias menunggu giliran untuk dilabelin. Apapun aktivitas dan status lu bisa mengubah lu menjadi teroris. Para direktur utama perusahaan bisa jadi teroris bagi karyawannya. Dosen bisa jadi teroris bagi mahasiswanya. Mahasiswa bisa jadi teroris bagi orang tua mereka. Presiden bisa jadi teroris bagi rakyatnya. Lalu siapa yg bisa lolos dari jeratan term teroris??? Tidak ada. Lalu kenapa kita ikut-ikutan mengutuk orang, kalo diri kita sendiri adalah terkutuk. Bukannya sesama pencopet dilarang mencopet? Tulisan ini hanya sebagai bahan renungan buat kita bersama. Bukan untuk menghakimi diri kita. Apalagi menggurui, enggak ada niat sama sekali. Kenali diri, sebelum memberikan label pada orang lain. Alangkah indahnya kalo kita tidak asal mengucilkan, menghina, men-cap, menghakimi orang yg menempuh jalurnya yg berbeda dengan kita. Wa Allahu a'lam bi Showab...